Feeds:
Pos
Komentar

Sensor Kamera Olympus

Kenapa saya memilih sistem kamera (Kamera dan Lensa2nya) dengan merk Olympus :

Pertama, karena rekomendasi dari teman saya yang sudah lama main2 fotografi (tks untuk Priyo). Kedua, umumnya kamera dan lensa nya ukurannya lebih kecil dan lebih ringan, jadi lebih ringkas. Ketiga, karena sistem yang digunakan adalah Four Third (untuk DSLR) disingkat FT bisa juga 4/3 atau Micro Four Third (untuk Mirrorless) disingkat MFT bisa juga m4/3. Perbedaannya dengan sistem merk lain terutama pada sensor, yaitu bagian yang digunakan untuk menangkap cahaya. Pada jaman analog, sebelum digital, cahaya ditangkap oleh negatif film dengan ukuran diameter 35mm.

Bagaimana dengan sistem FT dan MFT ? secara umum ukuran sensor sistem FT dan MFT adalah setengah dari sistem full frame (35mm dianggap sebagai full frame).

Penjelasan yang cukup gamblang saya dapatkan dari group Idolympian di FB yang diberikan oleh om Jakop Iskandar :

Lanjut Baca »

Ahli Patah Tulang

Kali ini saya posting terkait masalah kesehatan di blog ini, bukan di blog saya yang khusus membahas penyakit dan kesehatan (blog : Hidup Sehat). Kenapa? karena saya akan cerita pengobatan secara tradisional, pengobatan alternatif untuk patah tulang, bukan secara medis🙂

Ceritanya, bulan puasa kemarin, ibu saya jatuh karena tersandung “undak2an”, lantai yang agak tinggi dari ruang keluarga ke ruang makan. Karena ibu saya sudah cukup berumur (76 tahun), akibatnya cukup fatal, setelah jatuh tidak bisa bangun lagi, karena merasa sangat kesakitan…

Terpaksa beberapa orang asisten laki2 di rumah mertua dikerahkan untuk membopong ibunda.

Walaupun dibopong, ibu saya tetap merasa kesakitan, bahkan bergerak saja sakitnya bukan main. Wah, kayaknya ada tulang yang patah nih. Maklum, banyak cerita mengenai osteoporosis atau rapuh tulang terutama pada wanita berusia lanjut…
Lanjut Baca »

Taubat

Sudah banyak sekali tulisan, posting, artiket dan pembahasan terkait taubat.

Kenapa?
karena manusia diberi kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki dirinya setelah berbuat kesalahan dan dosa,
manusia juga diberi hati nurani yang akan merasa tidak nyaman setelah berbuat kesalahan,
obat dari hati yang gelisah itu tentu dengan memperbaiki diri, bertaubat
karena Allah swt memiliki sifat Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
sehingga hamba2Nya diberi kesempatan untuk bertaubat, jalan kembali kepada Nya

Sementara sifat manusia lemah, mudah goyah dengan godaan duniawi, nafsu akan kenikmatan yang sesaat
sehingga bisa “lupa”, “lupa” kepada perintah dan larangan Nya
“Lupa” bukanlah lupa seperti biasa, tetapi sebenarnya ingat akan perintah dan larangan Nya
hanya saja lupa karena godaan nafsu

Oleh karena itu
segeralah bertaubat,
mulai dari saat ini, paling tidak niatkanlah
selama masih ada kesempatan
insya Allah, bahkan dengan niat, insya Allah diterima

Kesempatan Hidup

Saya agak terhenyak dan jadi merenung waktu membaca blog fotografi yang saya ikuti dari Eric Kim, seorang street-photographer :

From Steven Job :

Remembering that I’ll dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make big choices in life. Because almost anything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure — these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important.
Remembering that you are going to to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose.
You are already naked.
There is no reason not to follow your heart.

“Mengingat bahwa saya akan meninggal tidak lama lagi adalah hal yang paling penting untuk membantu saya dalam menetapkan pilihan2 (keputusan besar). Karena hampir segalanya (harapan dari orang lain, ketakutan akan kegagalan, dll) akan terabaikan dan hanya akan tersisa hal yang benar2 penting.
Mengingat kita akan meninggal adalah jalan terbaik untuk menghindari jebakan dari pemikiran bahwa kita akan kehilangan sesuatu.
Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati (nurani)”

Lanjut Baca »

Hidup Bertetangga…

Sudah sekitar 2 tahun keluarga kita menempati rumah baru. Rumahnya tidak jauh dari rumah yang sebelumnya kita tempati. Rumah pertama sudah dihuni sekitar 13 tahun. Jarak dari rumah pertama tidak terlalu jauh, tidak lebih dari 1km…

Kepindahan kita karena terdorong adanya calon anggota keluarga baru, alias calon bayi, anak bungsu… Dengan kehamilan yang sudah besar maka isteri saya tidak bisa dengan mudah naik turun tangga (rumah pertama kami tempat tidurnya di lantai 2)… Selain itu, pas memang sedang ada fasilitas pinjaman perumahan dari kantor🙂 pas juga ada tetangga jauh yang menjual rumahnya dengan harga tetangga, bersahabat… Seperti orang bilang, properti itu ada jodoh2annya juga🙂

Berbeda dengan lingkungan rumah pertama, yang penghuninya banyak orang2 tua, para pensiunan… sehingga banyak kegiatannya, karena mereka kan banyak waktu luangnya… Nah, di lingkungan yang baru ini penghuninya umumnya lebih muda. Persamaannya, di kedua lingkungan ini para tetangga cukup baik dan ramah.

Tetapi yang namanya hidup bertetangga, ada saja hal2 yang kadang2 rasanya kurang sreg :
Lanjut Baca »

Sudah lama saya tidak pergi ke Surabaya, terakhir kali saya ke kota ini tahun awal 2010. Sudah lewat 3,5 tahun …

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan dinas dari kantor. Tidak banyak kolega yang mau pergi dinas ke luar kota dalam bulan puasa. Rasanya memang lebih afdol jika berpuasa, berbuka, shalat jamaah dan sahur bersama keluarga.

Tapi bagi saya, sejak 3 tahun lalu pasca operasi pemotongan lambung (dan sebagian usus), tidak bisa lagi ikut puasa. Saya menggantinya dengan membayar fidyah.

Karena tidak ikut puasa, maka saya ikut dinas ke luar kota bersama kolega lain yang juga tidak puasa.

Kali ini kami menginap di hotel JW Marriot. Kita pilih hotel ini karena terkenal makanannya enak (tepatnya untuk free breakfast) dan juga ada free laundry. Selain itu, setiap 30 menit ada shuttle bus yang bisa mengantar tamu hotel untuk pergi/pulang ke Tunjungan Plaza, salah satu mal terbesar di Surabaya.

Suasana kamar hotelnya menurut saya termasuk klasik tapi tidak terkesan kuno/jadul🙂
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lanjut Baca »

Jalan Tol Merak

Hari Minggu, 3 Februari 2013.

Dalam rangka tugas dari kantor, saya harus melakukan pekerjaan di kota Cilegon, Banten.  Jarak dari Jakarta ke Cilegon sekitar 90-an kilometer, tepatnya 94km sampai di pintu tol Cilegon Barat, atau sekitar satu jam waktu perjalanan dengan kecepatan rata2 100 km/jam menggunakan mobil melalui jalan tol.

Untuk bisa masuk kantor di Cilegon Senin pagi, saya bisa pergi pagi2 dari Jakarta.  Kalau pergi jam 7 pagi, diperkirakan akan sampai kantor di Cilegon sekitar jam 9 pagi. Namun badan bisa jadi sudah tidak fresh lagi, karena perjalanan yang lumayan, belum kalau ada macet/halangan di perjalanan.

Jadinya saya pilih alternatif lain, saya pergi hari Minggu, bisa malam hari, biar bisa lebih lama lagi bersama keluarga, main dengan anak2.  Tapi sebelum pergi saya coba2 browsing di internet mencari informasi mengenai jalan tol Merak. 

Kaget juga saya, rupanya ada informasi bahwa jalan tol Merak tidak dilengkapi dengan lampu di sepanjang jalan tol.  Sehingga kalau malam hari akan gelap gulita, cahaya yang ada justru berasal dari kendaraan/mobil yang melintas. 

Lanjut Baca »